Pulau Sabu dan Gajahmada >> cinta Indonesia
Pulau Sabu dan Gajahmada >> cinta Indonesia. Siapa di negeri ini yang tidak tahu Patih Gajahmada, patih kerjaan Majapahit yang terkenal dengan sumpah Palapa ini bersumpah akan menyatukan buni Nusantara, yang meliputi Asia Tenggara.
Dalam perjalanan menyatukan Nusantara, Patih Gajahmada dipercaya telah singgah dipulau sabu dan Raijua. Sabu tidak termasuk dalam daftar jajahan Kerajaan Majapahit (abad ke 12-14). Namun dalam beberapa situs dan di beberapa benda kuno, terutama yang ada di pulau Raijua, terdapat sebutan Maja. Banyak orang mengaitkan sebutan Maja itu pada keberadaan pemukim di pulau tersebut dalam masa Majapahit (dan bahkan beberapa orang percaya bahwa Gajah Mada sendiri pernah tinggal di Raijua).
Sampai saat ini tidak ada sumber-sumber informasi dari zaman Portugis mengenai Sabu dan Raijua yang telah ditemukan. Selang beberapa ratus tahun setelah kedatangan bangsa Portugis, Sabu disebutkan dalam dokumen Belanda tahun 1648.
Sampai saat ini tidak ada sumber-sumber informasi dari zaman Portugis mengenai Sabu dan Raijua yang telah ditemukan. Selang beberapa ratus tahun setelah kedatangan bangsa Portugis, Sabu disebutkan dalam dokumen Belanda tahun 1648.
Pada tahun 1674, kapal de Carper milik VOC menabrak batu karang di daerah Dimu. Kapal tersebut dirampok dan awaknya dibunuh. Dengan bantuan para raja atau pemimpin dari suku Amarasi (Timor), suku Termanu (Roti) dan suku Seba, VOC berhasil mengepung benteng Hurati di daerah Dimu selama beberapa bulan. Tidak mampu menembus pertahanan benteng tersebut, pasukan tentara VOC dan bantuannya mundur, akan tetapi seluruh kekuasaan Sabu tetap diminta untuk membayar denda yang tinggi kepada Belanda.
Pada tahun 1756, VOC menandatangani perjanjian dengan lima daerah kekuasaan Sabu; Seba, Mesara, Menia, Dimu dan Liae. Setelah beberapa orang penduduk memeluk agama Kristen pada masa awal kependudukan Portugis dan Belanda, Kristenisasi dan pendidikan menjadi berkembang dengan perlahan di Sabu dibanding kepulauan lain seperti Roti, Timor atau Flores.
Kapten James Cook dengan kapal Endevour berlabuh di Sabu pada bulan September tahun 1770. Cook bertemu dengan salah satu perwakilan Belanda, Johan Christopher Lange. Dia juga bertemu dengan raja Seba, Lomi Jara, dan seorang raja tua yang bernama Manu Jami. Kedua raja tersebut berasal dari suku Nataga; nama-nama mereka dapat ditemukan sebagai silsilah lokal yang ada di daerah tersebut.
Pada awal abad ke dua puluh, raja dari suku Seba menjadi raja Sabu yang artinya ia memiliki wewenang atas suku-suku lain. Para raja dari suku lain ini direndahkan kedudukannya dan diberi gelar "Pemimpin Kedua". Setelah Indonesia merdeka, pulau-pulau ini dipecah menjadi dua kecamatan. Sabu Barat, mencakup wilayah yang awalnya dimiliki oleh suku Seba, Mesara, Menia dan pulau Raijua. Dan Sabu Timur, mencakup wilayah Liae dan Dimu.


0 komentar:
Posting Komentar